Membuat Yoghurt Sendiri
Saya memang suka minum(atau makan ya?) yoghurt. Kebiasaan ini bermula sejak saya tinggal diBandung. Disana yoghurt dapat diperoleh dengan harga yang relatif murah. Banyak industri rumahan yang menjual yoghurt, dan produksinya dijual juga di super market. Biasanya saya membeli yoghurt yang plain, kemudian saya beri rasa saat saya akan meminumnya. Kadang saya campur dengan strawberry, raspberry atau sekedar diberi gula saja.
Sejak saya pindah ke Denpasar, saya tidak pernah minum yoghurt lagi. Di Denpasar yoghurt relatif mahal, mungkin karena yoghurt yang dijual disini kebanyakan produk import atau buatan merek yang terkenal. Membuat yoghurt sendiri saya rasa(waktu itu) terlalu rumit.
Beberapa hari yang lalu, saat menunggu anak sekolah di Denpasar Children Centre, saya ketemu dengan orang tua murid yang biasa membuat yoghurt sendiri. Dia bilang membuat yoghurt sendiri itu gampang kok, dan berjanji akan mengirimkan resepnya lewat email.
Emailnya saya tunggu-tunggu tidak muncul juga, mungkin karena kesibukannya, dan saya tidak bisa ketemu lagi dengannya disekolah, karena sekolah sudah libur, padahal saya sudah ngebet ingin membuat yoghurt sendiri.
Akhirnya seperti biasa, internet solusinya. Saya mulai mencari-cari cara membuat yoghurt di internet. Banyak juga yang saya temukan, mulai dari yang sederhana sampai cara yang rumit. Kemudian semua itu saya kompilasi, saya sesuaikan dengan kondisi dan peralatan yang ada dirumah.
Kemarin pagi, mula-mula saya mencari termometer untuk mengukur suhu proses pembuatan yoghurt. Memang bisa sih tanpa termometer, tapi untuk pemula, saya rasa akan lebih mudah kalau punya termometer. Termometer saya beli seharga 35rb di toko yang menjual alat-alat laboratorium.
Selanjutnya saya ke Hero untuk membeli susu dan bibit yoghurt. Susu yang saya beli adalah susu UHT supaya tidak perlu dipasteurisasi lagi. Saya menggunakan yoghurt yang sudah jadi sebagai bibit yoghurt. Dari hasil browsing, disarankan untuk menggunakan Danone atau Yummy, karena merek itu yang dipercaya masih berisi kultur aktif. Sebenarnya merek apa saja bisa yang penting ada tulisan mengandung kultur aktif dikemasannya. Oiya, disarankan membeli yoghurt plain sebagai bibit, jangan yang sudah ada rasanya.
Sebenarnya proses pembuatan yoghurt tidaklah rumit, yang penting kita menyediakan lingkungan yang menunjang perkembangan Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus sehingga nanti mikroba tersebut akan bisa menghasilkan yoghurt. Mikroba tersebut akan bekerja dengan baik pada temperatur sekitar 42-43 derajat celcius. Sebenarnya range temperatur yang diijinkan adalah 30-50 derajat celcius, tapi yang optimal adalah 42-43 derajat celcius.
Selain itu agar proses pembuatan yoghurt tidak terganggu oleh mikroba lain, alat-alat yang dipakai perlu disterilkan terlebih dahulu. Jika menggunakan susu segar, sebaiknya susu di pasteurisasi pada suhu 85 derajat celcius.
Kalau kita baca di internet, berbagai teknik dan alat dapat dipakai untuk memperoleh suhu inkubasi yang 42 derajat celcius tsb, mulai dari menggunakan kompor, termos, sampai heating pad. Kebetulan ibu saya punya panci listrik yang biasa dipakai untuk menghidangkan sayuran supaya tetap panas. Jadi saya pakai itu saja.
Proses inkubasi memakan waktu sekitar 6-10 jam, walaupun ada web yang menuliskan perlu waktu sampai 24 jam. Semakin optimal kondisi lingkungan, semakin cepat mikroba membuat yoghurt. Semakin lama waktu yang kita berikan padanya untuk bekerja, semakin kental yoghurt yang dihasilkan.
Setelah menunggu selama 7 jam, jadilah yoghurt saya. Enak juga, apalagi saya bikin jadi strawberry smoothies yoghurt. Ayo minum yoghurt…


